Pesan Debu, Teruntuk kamu
Dari hari Senin aku melihatnya, perempuan hitam yang kau tinggal sejak Minggu.
Aku pernah, melihatnya tertawa bersama teman-temannya, mendengar ia bahagia sebab akan pulang sekolah bersama.
Aku pernah melihat kalian berdua di kantin, kau setia menemani ia yang sakit perut. Melihat kamu memberi sebotol minuman pada kegiatan sekolah.
Aku pernah, melihatmu meminjamkan baju hitam untuk kegiatannya diluar sekolah.
Bahkan aku pernah, melihatmu membeli buah untuknya.
Aku pernah, melihatmu lelah, lantas besoknya kau sakit dan tak sekolah, sebab mengantarkan dia kerumah.
Aku pernah, melihatmu pulang malam mengantarkan dia, sebab acara sekolah yang sangat padat.
Aku pernah, melihatmu bertengkar hebat di parkiran sekolah, tapi kau kalah, Tuan. Kau berbohong, dan itu terlihat dari matamu yang kau putarkan ke kiri.
Aku pernah, melihat ia membanggakanmu kepada teman-temannya.
Melihat ia menangis sebab rindu.
Melihat ia berdoa, menyebut-nyebut namamu.
Aku pernah, melihat ia jatuh tersungkur, membuat kulitnya yang pekat bersentuhan dengan sejenisku, debu.
Tapi, Senin kemarin sangatlah parah. Tubuhnya luka, matanya berair. Bertengkar lagikah ia dengamu?
Suaranya parau ketika kutanya kenapa.
Gelak tawanya menjadi sedu sedan.
Dia tak sekuat yang kau harap.
Besoknya aku melihatnya, lewat sela-sela jendela. Ia benar-benar tak seperti biasanya. Bibirnya mengatup sedari lama, biasanya dia suka bicara.
Aku pernah, mencuri dengar kata-katanya dengan teman sebangkunya, "Aku habis berpisah," mata sendu itu semakin sendu.
benar, dugaanku. Kau menyakitinya lagi.
Hingga hari ini, aku tak pernah melihat ia tertawa berbahagia lagi, bisakah aku menikmati lagi goresan tinta Tuhan pada senyumnya? Menikmati gelak tawanya lagi? Melihat kedua lesungnya lagi? Menikmati hitam manis ciptaan Tuhan lagi?
dari aku, Debu jalanan, untuk kamu.
Aku pernah, melihatnya tertawa bersama teman-temannya, mendengar ia bahagia sebab akan pulang sekolah bersama.
Aku pernah melihat kalian berdua di kantin, kau setia menemani ia yang sakit perut. Melihat kamu memberi sebotol minuman pada kegiatan sekolah.
Aku pernah, melihatmu meminjamkan baju hitam untuk kegiatannya diluar sekolah.
Bahkan aku pernah, melihatmu membeli buah untuknya.
Aku pernah, melihatmu lelah, lantas besoknya kau sakit dan tak sekolah, sebab mengantarkan dia kerumah.
Aku pernah, melihatmu pulang malam mengantarkan dia, sebab acara sekolah yang sangat padat.
Aku pernah, melihatmu bertengkar hebat di parkiran sekolah, tapi kau kalah, Tuan. Kau berbohong, dan itu terlihat dari matamu yang kau putarkan ke kiri.
Aku pernah, melihat ia membanggakanmu kepada teman-temannya.
Melihat ia menangis sebab rindu.
Melihat ia berdoa, menyebut-nyebut namamu.
Aku pernah, melihat ia jatuh tersungkur, membuat kulitnya yang pekat bersentuhan dengan sejenisku, debu.
Tapi, Senin kemarin sangatlah parah. Tubuhnya luka, matanya berair. Bertengkar lagikah ia dengamu?
Suaranya parau ketika kutanya kenapa.
Gelak tawanya menjadi sedu sedan.
Dia tak sekuat yang kau harap.
Besoknya aku melihatnya, lewat sela-sela jendela. Ia benar-benar tak seperti biasanya. Bibirnya mengatup sedari lama, biasanya dia suka bicara.
Aku pernah, mencuri dengar kata-katanya dengan teman sebangkunya, "Aku habis berpisah," mata sendu itu semakin sendu.
benar, dugaanku. Kau menyakitinya lagi.
Hingga hari ini, aku tak pernah melihat ia tertawa berbahagia lagi, bisakah aku menikmati lagi goresan tinta Tuhan pada senyumnya? Menikmati gelak tawanya lagi? Melihat kedua lesungnya lagi? Menikmati hitam manis ciptaan Tuhan lagi?
dari aku, Debu jalanan, untuk kamu.
Komentar
Posting Komentar