Belajar Adaptasi, Be!

Menjadi baru adalah hal yang cukup sulit untuk adaptasi.


Karena masing-masing dari kita punya kekuatan yang luar biasa. Kekuatan untuk sama-sama meninggalkan.
Kekuatan untuk sama-sama menguatkan, dalam doa sebelum tidur misalnya.
Kekuatan menahan rindu.
Menahan tangis sedu.
Menahan semuanya.


Biarkan perasaan yang telah pegi bermetamorfosis dan kembali dengan yang lebih baik.
Biarkan rindu-rindu itu dipendam dahulu, kelak akan kita habiskan hingga tak ada seorangpun dapat mencicipinya.
Biarkan mata ini tak pernah kau tatap lagi, sebab indah tak harus dinikmati sekarang juga.
Biarkan tubuh ini hangat oleh peluk lewat doamu, menyayangi tak harus selalu bersentuhan.
Biarkan aku, mengetahuimu dari jauh. Mengagumimu dari jauh, sambil bergumam "Nikmat dari Tuhan yang manakah yang aku dustakan?" meski aku telah menelan dusta dengan mentah-mentah. Bersyukur mengenalmu, tetap menjadi priotitasku.

Terimakasih telah mengizinkan aku melalukan tualang hidupku tanpamu, banyak simpan cerita untukku! Ku rindu mendengar caramu bercerita dengan terbata-bata.

Ini hari ke-lima. Aku merasa tenang disini, sepertinya kau juga tenang disana.


Belajar adaptasi, Be!
dari aku, yang barusan mampir dalam kenanganmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak itu Pemain Sepakbola

Pesan Debu, Teruntuk kamu

Gang yang Aku Suka!