Anak itu Pemain Sepakbola
Dengan sepatunya, dengan kaoskaki panjangnya, dengan bajunya, aku bisa tahu. Anak itu pemain sepakbola.
Dalam perjalanan menuju pulang, di lampu merah kedua dari sekolah, aku berdoa.
Dalam doa yang mengaitkan kau di masadepan, aku bergumam.
Melihat anak itu memakai stelan sepakbola, bisa ku lihat ia adalah pemain sepakbola.
Melihat tas kebesarannya, lalu tali tasnya hampir masuk ke roda.
Aku gelisah. Takut. Takut tali itu ikut berputar bersama roda motor ayahnya, barangkali.
Aku hampiri anak tadi. Ku jajarkan motorku dengan motor ayahnya yang asik sekali dengan ponselnya. Aku mencolek lengannya.
"Dek, dek, itu tali tasnya. Takut kenapa-kenapa," sambil aku tarik talinya. Aku tak tau betul bagaimana ekspresi kagetnya anak itu, yang tiba-tiba aku panggil.
Tak ada terimakasih, tak ada balasan apapun.
Habis itu aku kembali mengalihkan pandangan, sebab lampu hijaunya masih lama, akhirnya aku tatap anak itu lewat kaca spion motorku.
Aku dapat melihat kaoskaki panjangnya,
Sepatunya.
Keduanya punya merk yang sama, merk yang pernah kamu sebutkan selain Adidas, dan Nike.
Specs. Anak itu memakai produk specs. Sepatu yang kau ingin beli, barangkali?
Ini, hari ke-empatku. Aku mulai baik-baik saja, bahkan semakin ceria.
Membantu seseorang pun membuat aku jauh lebih baik dari baik-baik saja. Meski hanya secuil. Tapi aku senang. Apa kamu juga?
Dalam perjalanan menuju pulang, di lampu merah kedua dari sekolah, aku berdoa.
Dalam doa yang mengaitkan kau di masadepan, aku bergumam.
Melihat anak itu memakai stelan sepakbola, bisa ku lihat ia adalah pemain sepakbola.
Melihat tas kebesarannya, lalu tali tasnya hampir masuk ke roda.
Aku gelisah. Takut. Takut tali itu ikut berputar bersama roda motor ayahnya, barangkali.
Aku hampiri anak tadi. Ku jajarkan motorku dengan motor ayahnya yang asik sekali dengan ponselnya. Aku mencolek lengannya.
"Dek, dek, itu tali tasnya. Takut kenapa-kenapa," sambil aku tarik talinya. Aku tak tau betul bagaimana ekspresi kagetnya anak itu, yang tiba-tiba aku panggil.
Tak ada terimakasih, tak ada balasan apapun.
Habis itu aku kembali mengalihkan pandangan, sebab lampu hijaunya masih lama, akhirnya aku tatap anak itu lewat kaca spion motorku.
Aku dapat melihat kaoskaki panjangnya,
Sepatunya.
Keduanya punya merk yang sama, merk yang pernah kamu sebutkan selain Adidas, dan Nike.
Specs. Anak itu memakai produk specs. Sepatu yang kau ingin beli, barangkali?
Ini, hari ke-empatku. Aku mulai baik-baik saja, bahkan semakin ceria.
Membantu seseorang pun membuat aku jauh lebih baik dari baik-baik saja. Meski hanya secuil. Tapi aku senang. Apa kamu juga?
Komentar
Posting Komentar