Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Pecahkan!

setiap masalah harus segera dipecahkan. Diselesaikan. Jika kau ingin bicara, maka lakukan. Sebab kita tidak akan pernah tahu, pada kesempatan yang mana Tuhan akan memberikan waktu untuk bicara. Berdua.

Senyum Kamu

Entah. Malam itu aku kedinginan. Tapi kau peluk dengan senyum yang tak pernah kau beri sehari-hari. Senyum kerinduan yang amat rindu. Bukankah begitu?

Gang yang Aku Suka!

Hai. Aku selalu suka kehidupan di gang. Apalagi kehidupan di gang yang biasa kita lewati, ingat? Gang yang hanya muat dua motor itu loh. Yang kalau-kalau macet di jalan raya kita suka lewati. Ingat? Sepulang sekolah, keadaan gang yang selalu aku suka. Burung-burung beriringan pulang. Gerombolan anak main layang-layang. Bapak (yang entah itu bapak siapa) sedang mencuci motor supranya. Anak berjilbab pergi ke madrasah. Ibu (yang entah itu ibu siapa) menunggu di depan Madrasah. Tidak jauh dari Madrasah, gadis kecil kucir satu membeli kue putu. Anak baru gede yang berseragam biru putih, statusnya digantung (entah lulus atau tidak) itu mengantre membeli seblak.  Beberapa pekerja kuli bekerjasama untuk membangun mushola di gang itu. Rumah dekat mushola ku dapat dengan lantunan murotal. Dua tiga rumah dari sana terlihat kakek-kakek menggendong cucu pertamanya. Beberapa meter dari kakek itu ada anak muda bersepeda dengan kawannya. Sebelum senja tiba, mereka semua bahagia. Terakhir, ruma...

Belajar Adaptasi, Be!

Menjadi baru adalah hal yang cukup sulit untuk adaptasi. Karena masing-masing dari kita punya kekuatan yang luar biasa. Kekuatan untuk sama-sama meninggalkan. Kekuatan untuk sama-sama menguatkan, dalam doa sebelum tidur misalnya. Kekuatan menahan rindu. Menahan tangis sedu. Menahan semuanya. Biarkan perasaan yang telah pegi bermetamorfosis dan kembali dengan yang lebih baik. Biarkan rindu-rindu itu dipendam dahulu, kelak akan kita habiskan hingga tak ada seorangpun dapat mencicipinya. Biarkan mata ini tak pernah kau tatap lagi, sebab indah tak harus dinikmati sekarang juga. Biarkan tubuh ini hangat oleh peluk lewat doamu, menyayangi tak harus selalu bersentuhan. Biarkan aku, mengetahuimu dari jauh. Mengagumimu dari jauh, sambil bergumam "Nikmat dari Tuhan yang manakah yang aku dustakan?" meski aku telah menelan dusta dengan mentah-mentah. Bersyukur mengenalmu, tetap menjadi priotitasku. Terimakasih telah mengizinkan aku melalukan tualang hidupku tanpamu, banya...

Anak itu Pemain Sepakbola

Dengan sepatunya, dengan kaoskaki panjangnya, dengan bajunya, aku bisa tahu. Anak itu pemain sepakbola. Dalam perjalanan menuju pulang, di lampu merah kedua dari sekolah, aku berdoa. Dalam doa yang mengaitkan kau di masadepan, aku bergumam. Melihat anak itu memakai stelan sepakbola, bisa ku lihat ia adalah pemain sepakbola. Melihat tas kebesarannya, lalu tali tasnya hampir masuk ke roda. Aku gelisah. Takut. Takut tali itu  ikut berputar bersama roda motor ayahnya, barangkali. Aku hampiri anak tadi. Ku jajarkan motorku dengan motor ayahnya yang asik sekali dengan ponselnya. Aku mencolek lengannya. "Dek, dek, itu tali tasnya. Takut kenapa-kenapa," sambil aku tarik talinya. Aku tak tau betul bagaimana ekspresi kagetnya anak itu, yang tiba-tiba aku panggil. Tak ada terimakasih, tak ada balasan apapun.  Habis itu aku kembali mengalihkan pandangan, sebab lampu hijaunya masih lama, akhirnya aku tatap anak itu lewat kaca spion motorku. Aku dapat melihat kaoskaki p...

Belajar Rela, Be!

Jangan, jangan sedih.  Kamu harus kuat! Hari itu, hari dimana kita sudah punya langkah yang berbeda, Aku tak bisa apa-apa. Di sepertiga malam, waktu itu, harusnya kita sudah terlelap. Bahkan aku berharap waktu pagi, kalau tadi malam hanya mimpi. Utara kita tak sama. Aku yang menunggu fajar, sedang kamu menanti senja.  berbeda. Awalnya kita pasti akan merasa tidak suka dengan takdir semesta, kita dibuat sedih menangis sepanjang hari. Tapi, lambat laun Ilahi pancarkan petunjuk-Nya. Untukmu, untuk aku. Untuk kita. Biar kita berdua berlayar pada air yang berbeda, arus yang berbeda. Harus percaya, kalau kita akan bermuara di tempat yang sama.   Nanti, kita berdua akan saling bercerita, tentang batu karang yang mana yang paling sulit ditaklukan, tentang air mana yang indah warnanya, tentang ombak yang membicarakan kisah kita yang telah lama, atau mendengar lumba-lumba yang menyapa, bercerita tentang ikan-ikan yang berenang, yang konvoi menuju sekolah, atau b...

Pesan Debu, Teruntuk kamu

Dari hari Senin aku melihatnya, perempuan hitam yang kau tinggal sejak Minggu. Aku pernah, melihatnya tertawa bersama teman-temannya, mendengar ia bahagia sebab akan pulang sekolah bersama. Aku pernah melihat kalian berdua di kantin, kau setia menemani ia yang sakit perut. Melihat kamu memberi sebotol minuman pada kegiatan sekolah. Aku pernah, melihatmu meminjamkan baju hitam untuk kegiatannya diluar sekolah. Bahkan aku pernah, melihatmu membeli buah untuknya. Aku pernah, melihatmu lelah, lantas besoknya kau sakit dan tak sekolah, sebab mengantarkan dia kerumah. Aku pernah, melihatmu pulang malam mengantarkan dia, sebab acara sekolah yang sangat padat. Aku pernah, melihatmu bertengkar hebat di parkiran sekolah, tapi kau kalah, Tuan. Kau berbohong, dan itu terlihat dari matamu yang kau putarkan ke kiri. Aku pernah, melihat ia membanggakanmu kepada teman-temannya. Melihat ia menangis sebab rindu. Melihat ia berdoa, menyebut-nyebut namamu. Aku pernah, melihat ia jatuh tersungk...